Total Tayangan Halaman

Selasa, 12 Juni 2012

Lunturnya Idealisme Gerakan PMII

Lunturnya Idealisme Gerakan PMII


Oleh; Muchamad Sholechan
Dahulu basis gerakan PMII mempunyai peranan penting dalam memperjuangkan hak rakyat Indonesia. Berbekal intelektualitas dan kapasitas yang mereka miliki, memposisikan kader PMII sebagai the agent of social change, the agent of social control, dan the agent of problem solver. Mereka mempunyai prinsip dan tugas yang mulia sebagai pembela rakyat dari segala kebijakan birokrasi yang tidak pro rakyat. Namun melihat realita sekarang, basis pergerakan yang mengatasnamakan gerakan untuk rakyat, kini tinggalah angan-angan.
            Gerakan PMII sekarang telah terreduksi. Sebagai kader pergerakan yang  menempati jenjang pendidikan tertinggi di Indonesia, seharusnya kader mampu melaksanakan fungsinya sesuai dengan  landasan pergerakan yang tercantum dalam Nilai Dasar Pergerakan (NDP).  Akan tetapi, pada kenyataanya pergerakan PMII sekarang cenderung kehilangan arah dalam gelombang permasalahan bangsa, serta kehilangan daya kritis untuk menjadi pengawal penguasa.
            Kepekaan dalam menangkap isu-isu sosial, kemudian melakukan advokasi telah menghilang dari jiwa kader dimasa kini. Berbagai peristiwa hukum dan sosial yang belakangan ini terjadi kurang begitu mendapat perhatian dari kader PMII. Simak saja beberapa persoalan, seperti aksi anarkhis yang dilakukan oleh kelompok radikal, pemutusan hubungan kerja secara sepihak pada buruh pabrik, serta petani yang dirugikan karena lahannya digunakan untuk perumahan dan perluasan jalan tol dan sebagainya. Persoalan-persoalan tersebut kurang begitu mendapat perhatian kader pergerakan masa kini. Padahal, persoalan-persoalan tersebut mencakup permasalahan yang mendasar yakni, kebebasan dan hak asasi manusia. Namun kader pergerakan sekarang ini lebih tertarik terhadap isu-isu yang bersifat global yang tidak ada korelasi langsung dengan masyarakat.
            Adanya afiliasi terhadap partai politik menjadi salah satu faktor penyebab sikap apatis gerakan di tubuh PMII dalam menyikapi masalah tertentu. Sikap politik yang dianut suatu partai, mau tidak mau harus dianut pula oleh organisasi pergerakan yang berada di bawah naungannya. Hal ini menyebabkan kader kehilangan daya kritis dan pembelaan terhadap mereka yang terpinggirkan. Selain itu banyaknya alumni kader pergerakan yang telah menempati posisi penting dalam  kancah perpolitikan, juga berperan besar terhadap berkurangnya nalar kritis kader dalam menyikapi suatu masalah. Hubungan yang terjadi di antara alumni dengan kader gerakan yang masih aktif, cenderung didominasi oleh doktrin-doktrin yang bersifat pragmatis.
Permasalahan lain yang tidak kalah serius adalah, kritik yang dilontarkan mahasiswa pergerakan dalam berbagai bentuk unjuk rasa saat ini. Mereka dalam menyampaikan aspirasi tidak berangkat dari tradisi akademik yang menjadi basis moral pergerakan. Ketika melakukan aksi, kader kurang mempunyai dasar pemikiran akademis yang bisa dipertanggungjawabkan. Kerap kali suara-suara yang mereka bawa turun ke jalan tidak melalui serangkaian kajian yang mendalam berdasarkan disiplin ilmu yang memadai. Oleh karenanya argumen yang mereka tawarkan mudah dibantah dan dipatahkan. Disamping itu cara mereka menyalurkan aspirasi cenderung anarkis, sehingga simpati rakyat terhadap perjuangan mereka meluntur.
Maka perlu ada tinjauan ulang terhadap gerakan PMII saat ini. Sudah saatnya kita berbenah diri dan kembali pada prinsip dan patron pergerakan yang benar, yaitu gerakan untuk rakyat. Mahasiswa pergerakan saat ini harus mampu mengaplikasikan konsep NDP sebagai bekal untuk pergerakan. Karena kader tidak hanya dituntut cakap secara berintelektual saja, namun harus mampu mengamalkanya dalam pengabdian masyarakat. Terlebih dalam mengawal kebijakan pemerintah yang tidak pro rakat.
 Kemudian peran serta semua elemen masyarakat juga sangat penting. Sebagai penyokong sekaligus kontrol pergerakan, supaya arah gerakan mampu sejalan dengan visi dan misi kerakyatan. Karena pada dasarnya gerakan PMII adalah gerakan yang berbasis kerakyatan bukan berbasis golongan ataupun politik. Dengan adanya sinergitas tersebut diharapkan gerakan PMII mampu menjadi suatu kekuatan besar yang mampu mengawal birokrasi, sehingga akan tercipta masyarakat madani yang selama ini kita dambakan.

Senin, 04 Juni 2012

ADAB PENUNTUT ILMU

Oleh; Muchamd Sholechan
Menuntut ilmu adalah satu keharusan bagi kita kaum muslimin. Banyak sekali dalil yang menunjukkan keutamaan ilmu, para penuntut ilmu dan yang mengajarkannya.
Adab-adab dalam menuntut ilmu yang harus kita ketahui agar ilmu yang kita tuntut berfaidah bagi kita dan orang yang ada di sekitar kita sangatlah banyak. Adab-adab tersebut di antaranya adalah:

1. Ikhlas karena Allah I .

Hendaknya niat kita dalam menuntut ilmu adalah kerena Allah I dan untuk negeri akhirat. Apabila seseorang menuntut ilmu hanya untuk mendapatkan gelar agar bisa mendapatkan kedudukan yang tinggi atau ingin menjadi orang yang terpandang atau niat yang sejenisnya, maka Rasulullah e telah memberi peringatan tentang hal ini dalam sabdanya e :

"Barangsiapa yang menuntut ilmu yang pelajari hanya karena Allah I sedang ia tidak menuntutnya kecuali untuk mendapatkan mata-benda dunia, ia tidak akan mendapatkan bau sorga pada hari kiamat".( HR: Ahmad, Abu,Daud dan Ibnu Majah )

Tetapi kalau ada orang yang mengatakan bahwa saya ingin mendapatkan syahadah (MA atau Doktor, misalnya ) bukan karena ingin mendapatkan dunia, tetapi karena sudah menjadi peraturan yang tidak tertulis kalau seseorang yang memiliki pendidikan yang lebih tinggi, segala ucapannya menjadi lebih didengarkan orang dalam menyampaikan ilmu atau dalam mengajar. Niat ini - insya Allah - termasuk niat yang benar.

2.Untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya dan orang lain.

Semua manusia pada mulanya adalah bodoh. Kita berniat untuk meng-hilangkan kebodohan dari diri kita, setelah kita menjadi orang yang memiliki ilmu kita harus mengajarkannya kepada orang lain untuk menghilang kebodohan dari diri mereka, dan tentu saja mengajarkan kepada orang lain itu dengan berbagai cara agar orang lain dapat mengambil faidah dari ilmu kita.

Apakah disyaratkan untuk memberi mamfaat pada orang lain itu kita duduk dimasjid dan mengadakan satu pengajian ataukah kita memberi mamfa'at pada orang lain dengan ilmu itu pada setiap saat? Jawaban yang benar adalah yang kedua; karena Rasulullah e bersabda :

"Sampaikanlah dariku walupun cuma satu ayat” (HR: Bukhari)
Imam Ahmad berkata: Ilmu itu tidak ada bandingannya apabila niatnya benar. Para muridnya bertanya: Bagaimanakah yang demikian itu? Beliau menjawab: ia berniat menghilangkan kebodohan dari dirinya dan dari orang lain.

3. Berniat dalam menuntut ilmu untuk membela syari'at.

Sudah menjadi keharusan bagi para penuntut ilmu berniat dalam menuntut ilmu untuk membela syari'at. Karena kedudukan syari'at sama dengan pedang kalau tidak ada seseorang yang menggunakannya ia tidak berarti apa-apa. Penuntut ilmu harus membela agamanya dari hal-hal yang menyimpang dari agama (bid'ah), sebagaimana tuntunan yang diajarkan Rasulullah e. Hal ini tidak ada yang bisa melakukannya kecuali orang yang memiliki ilmu yang benar, sesuai petunjuk Al-Qor'an dan As-Sunnah.

4. Lapang dada dalam menerima perbedaan pendapat.

Apabila ada perbedaan pendapat, hendaknya penuntut ilmu menerima perbedaan itu dengan lapang dada selama perbedaan itu pada persoalaan ijtihad, bukan persoalaan aqidah, karena persoalaan aqidah adalah masalah yang tidak ada perbedaan pendapat di kalangan salaf. Berbeda dalam masalah ijtihad, perbedaan pendapat telah ada sejak zaman shahabat, bahkan pada masa Rasulullah e masih hidup. Karena itu jangan sampai kita menghina atau menjelekkan orang lain yang kebetulan berbeda pandapat dengan kita.

5. Mengamalkan ilmu yang telah didapatkan.

Termasuk adab yang tepenting bagi para penuntut ilmu adalah mengamalkan ilmu yang telah diperoleh, karena amal adalah buah dari ilmu, baik itu aqidah, ibadah, akhlak maupun muamalah. Karena orang yang telah memiliki ilmu adalah seperti orang memiliki senjata. Ilmu atau senjata (pedang) tidak akan ada gunanya kecuali diamalkan (digunakan).

6. Menghormati para ulama dan memuliakan mereka.

Penuntut ilmu harus selalu lapang dada dalam menerima perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan ulama. Jangan sampai ia mengumpat atau mencela ulama yang kebetulan keliru di dalam memutuskan suatu masalah. Mengumpat orang biasa saja sudah termasuk dosa besar apalagi kalau orang itu adalah seorang ulama.

7. Mencari kebenaran dan sabar

Termasuk adab yang paling penting bagi kita sebagai seorang penuntut ilmu adalah mencari kebenaran dari ilmu yang telah didapatkan. Mencari kebenaran dari berita berita yang sampai kepada kita yang menjadi sumber hukum. Ketika sampai kepada kita sebuah hadits misalnya, kita harus meneliti lebih dahulu tentang keshahihan hadits tersebut. Kalau sudah kita temukan bukti bahwa hadits itu adalah shahih, kita berusaha lagi mencari makna (pengertian ) dari hadits tersebut. Dalam mencari kebenaran ini kita harus sabar, jangan tergesa-gasa, jangan cepat merasa bosan atau keluh kesah. Jangan sampai kita mempelajari satu pelajaran setengah-setengah, belajar satu kitab sebentar lalu ganti lagi dengan kitab yang lain. Kalau seperti itu kita tidak akan mendapatkan apa dari yang kita tuntut.

Di samping itu, mencari kebenaran dalam ilmu sangat penting karena sesungguhnya pembawa berita terkadang punya maksud yang tidak benar, atau barangkali dia tidak bermaksud jahat namun dia keliru dalam memahami sebuah dalil.Wallahu 'Alam.

Dikutip dari " Kitabul ilmi" Syaikh Muhammad bin Shalih Al'Utsaimin
.(Abu Luthfi)

Kamis, 31 Mei 2012

Adakah Kebenaran Dalam Agama?


Adakah Kebenaran Dalam Agama?

Apakah ada kebenaran di dalam agama, sesuatu yang telah menjadi pedoman bagi hampir seluruh umat manusia selama sekitar ratusan hingga ribuan tahun? Masing-masing agama memang mengklaim bahwa ada kebenaran di dalam dirinya; entah itu melalui konsep Tuhan yang dikonsepsikan melalui dogma maupun melalui Kita Suci agama masing-masing ataupun melalui paham-paham yang mereka yakini sendiri. Namun, yang menjadi pertanyaan besar adalah, apakah betul bahwa agama itu memang betul-betul mengandung sebuah kebenaran?
Kebenaran diyakini sebagai segala sesuatu yang tidak lagi bisa dibantah, mengandung sesuatu yang absolut dan dapat diterima oleh semua kalangan. Berangkat dari pernyataan ini, kita akan melihat apakah agama itu bisa disebut mengandung sebuah kebenaran yang absolut atau tidak.
Dari pemaparan di atas, maka kita akan mendapatkan suatu fakta yang menarik, yakni bahwa agama itu tidak benar dan juga tidak salah. Agama itu tidak benar sejauh mereka ada pada sudut pandang para atheis dan tidak salah selama kita melihat dari sudut pandang theis. Dua sudut pandang ini saling bertolak belakang, sehingga tidak dimungkinkan untuk dilakukan penggabungan diantara keduanya.
Jika kita memaksakan menemukan sebuah titik temu perihal persepsi kebenaran di dalam agama yang bisa mengakomodir sudut pandang dari masing-masing pihak, maka hanya bisa disimpulkan demikian: bahwa agama itu hanya akan benar sejauh mereka tidak memperdayakan umatnya, melainkan memberdayakan umatnya, agama itu benar sejauh ia bisa peka terhadap fenomena-fenomena sosial disekitarnya dan tidak hanya sibuk berkutat dengan doktrin dan dogmanya masing-masing. Memang, sepintas hal ini nampak sangat bersifat duniawi. Namun, jika memang agama diciptakan oleh Tuhan yang sangat baik –sebenarnya tidak pantas menggunakan kata baik karena sangat lebih dari sekedar baik- maka agama juga harus bisa memancarkan kebaikan itu untuk semua orang dan hal ini tentunya tidak berkontradiksi dengan pandangan kaum atheis.
Oleh; Muchamad Sholechan ibn Rasyid

Faham Radikalisme Mengintai Pola Pikir Pemuda

Faham Radikalisme Mengintai Pola Pikir Pemuda
                                           
Oleh; Muchamad Sholechan penulis[1]

Kaum muda  sasaran empuk paham radikalisme,  mereka dianggap
tengah mengalami proses dan fase pencarian  jati diri. Didukung kebanyakan pemuda yang bersikap asocial, menyebabkan rasionalitas dan kesadaran kritis tidak bekerja normal di benak mereka. Sehingga semakin mudah ditanamkan sikap militansi  paham radikalisme, yang sangat  mengancam jiwa pelakunya.

Radikalisme berasal dari kata filsafat yaitu radic yang berarti berfikir secara mendalam untuk menelusuri suatu akar masalah atau hakekat dan realitas. Radic pada mulanya berkembang dalam bahasa filsafat, tapi saat ini radikalisme berkembang menjadi perbuatan yang memicu gerakan radikal. Saat ini radikalisme bergeser dari cara berfikir secara filsafat berubah menjadi gerakan politik keagamaan. Bukan agama, tapi agama yang dipolitisir. Yaitu orang beragama yang menganggap hanya dirinyalah yang benar, sedangkan orang lain salah. Hanya dirinyalah yang masuk surga, sementara yang lain masuk neraka. Menilai lemah iman orang Islam di luar diri serta kelompoknya karena dinilai hanya membela Islam dengan kata-kata, tidak dengan perbuatan seperti yang telah mereka lakukan.
Para pemuda menjadi obyek utama paham radikalisme, mereka dianggap tengah mengalami proses atau fase pencarian jati diri. Rasionalitas serta kesadaran kritis yang tidak bekerja di benak mereka. Mengakibatkan doktrin yang menegasi realitas begitu mudah ditanamkan, dan indoktrinasi sektarian merasuk manakala kaum muda mengalami ketercerabutan atau kehilangan komunitas sosial kritis tempat belajar. Sehingga semakin mudah ditanamkan sikap militansi sesuai paham radikalisme, yang sangat  mengancam jiwa pelakunya. Untuk memotifasi paham ini, kaum radikal menggunakan idom-idom keagamaan, seperti janji surga dan kedudukan yang mulia di sisi Tuhan. Inilah yang dipompakan ke dalam benak para radikalis.
Gerakan Sempalan
Timbulnya pemahaman agama yang radikal di kalangan anak muda sebenarnya sangat wajar serta tidak perlu dihawatirkan. Sebuah umat yang hanya terdiri dari satu ortodoksi yang monolitik mudah kehilangan dinamika dan semangat hidup. Dalam sejarah gereja di dunia Barat sekte-sekte radikal telah berfungsi sebagai hati nurani umat, dapat dilihat di sejarah umat Islam. Gerakan sempalan radikal mendorong ortodoksi untuk setiap saat memikirkan kembali relevansi ajaran agama dalam masyarakat kontemporet untuk menjawab atas masalah dan tantangan baru yang terus timbul.
Baru-baru ini muncul bahaya jika komunikasi antar ortodoksi dan gerakan sempalan terputus, kemudian mereka terasingkan. Karena kurang pengalaman hidup dan pengetahuan agama, akibatnya mereka sangat mudah bisa dimanipulir dan atau diarahkan kepada kegiatan yang tidak sesuai dengan kepentingan umat. Masalah ketercerabutan (asosial) ini persis dialami para mahasiswa yang notabennya pemuda, lingkaran hedonis yang suka hura-hura dan condong keluar dari habitat sebagai pelajar produktif.
Dewasa ini mahasiswa suntuk karena urusan kuliah yang kian berat, tekanan struktural berlapis akibat kecewa melihat perubahan lingkungan sosial ekonomi, apalagi pudarnya solidaritas sosial akibat pergaulan eksklusif. Dampaknya mahasiswa mengalami disorientasi, oleh karena itu seharusnya sistem pendidikan dan budaya di masyarakat mewadahi pengembangan kesadaran kritis, agar mereka berkespresi sesuai minat, mendidik dan cerdas.
Obat Penawar
Untuk mengatasi persoalan indoktrinasi pada mahasiswa, tidak cukup sekedar mengejar atau menangkap para pencuci otak atas nama hukum. Namun pulihkan segera hamasiswa dari tekanan (stress) karena mereka korban keyakinan paham keras atas agama.  Jangka panjangnya, perlu menumbuhkan dan membangun ruang pembelajaran kritis dan rasional di dalam kampus dan masyarakat, agar menguat semangat solidaritas berkomunitas. Memfasilitasi arena pengembangan pemikiran dan ekspresi kreatif, agar imajinasi kaum muda bermakna sebagai modal dan proses belajar dirinya agar kian matang serta humanis. Kemudian diperkuat dengan pendidikan karakter yang mendukung pemahaman social yang tinggi.
Sebagaimana penuturan Muhamad Nuh, Gerakan pendidikan karakter yang bertumpu pada kecintaan dan kebanggaan terhadap bangsa dan negara berdasarkan pilar Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sangat mendukung terbinanya insan yang mulia. Karena gerakan pendidikan karakter menekankan tiga hal, pertama, menumbuhkan kesadaran peserta didik sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan sehingga muncul perilaku kasih sayang dan bukan sikap destruktif atau merusak. Kedua, tumbuhnya karakter keilmuan yakni bertambahnya rasa "kepenasaran intelektual" (intelectual curiosity). Ketiga, tumbuhnya kecintaan terhadap tanah air berupa penanaman ideologi.
Perlu dipahami bersama, suksesi masalah ketercerabutan butuh komitmen dan kerja sama antara lembaga pendidikan, masyarakat dan kebijakan negara yang harus saling menopang, baik dari sisi substansi maupun metode belajarnya. Saling menghargai satu sama lain, karena bangsa Indonesia adalah bangsa sangat majemuk, terdiri dari bermacam-macam suku, agama, ras, dan juga banyak aliran-aliran politik. Selanjutnya menumbuhkan kehidupan yang ramah yang bersendikan keseimbangan, toleransi, moderat, dan keadilan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam arti agama yang damai dan berkeadilan, serta memunculkan Islam sebagai rahmatan lil’alamin menuju ummatan wasathan yang bisa mengintegrasikan umat dan bangsa.                                             



[1] Mahasiswa Prodi PAI ‘10 Walisongo, asal kota Kebumen Beriman
“Diskusi Srikandi” tumbuhkan semangatku untuk bisa menyatu dengan fenomena alam.

Selasa, 08 Mei 2012

Parpol Mulai Menggeliat Persiapkan Pemilu 2014



Tahun 2012 ini, para Parpol mulai meng- konsolidasi- kan seluruh jajarannya. Merapikan barisan. Menyamakan persepsi sesuai Visi dan Misi- nya masing- masing. Sesuai platformmasing- masing.
Memang bisa dimaklumi, sebab harus berpacu didalam waktu kurang dari dua tahun ini. Namun kita semua berharap kiranya semua persiapan dan sepak terjang masing- masing parpol dalam mencari simpati publik hendaknya memiliki prinsip berpolitik yang berethika. Hal ini demi kelancaran dan ketenangan pelaksanaan pemilu itu sendiri, yang notabene semua parpol juga yang akan merasakan betapa nyamannya bersaing secara sehat. Disamping itu masyarakat awam, rakyat pada umumnya yang menjadi simpatisan atau pendukung yang akan memilih/ mendukung salah satu parpol yang disukainya menjadi percaya, tenang dan mantap.
Mengembalikan kepercayaan masyarakat akan sepak terjang dunia politk yang sehat adalah penting. Kesan amburadul, penuh tipu daya yang selama ini dirasakan akan berbalik arah menjadi suatu kebanggaan kembali seperti sedia kala. Masyarakat juga akan lega dan mau mendukung karena sesungguhnya berpolitik adalah bagian dari hidup baik secara individualmaupun secara kolektif - masyarakat/ rakyat. Kebutuhan politis tidak dapat dipisahkan dari kebutuhan hidup dibidang lainnya, seperti kehidupan sosial, ekonomi dan budaya. Melainkan kebutuhan tersebut, menyatu. Include.
Mari kita saling penerimaan dalam hal spirit berpolitik yang sehat dan berprinsip. Demi pembangunan demokrasi kita yang seyogyanya makin maju dan beradab. Demi pembangunan manusia Indonesia seutuhnya. Demi pembangunan Nusa dan Bangsa. Dan demi Kejayaan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari sekarang sampai selamanya. Merdeka!!
lihat lengkap;