Imperium, Neoliberalisme, dan Asia
Masa pasca-Perang Dingin, ditandai oleh tatanan internasional yang didominasi satu negeri adikuasa-Amerika Serikat.
Walaupun banyak dibahas setelah peristiwa 11 September 2001, di New York, serta sejak dicetuskannya “perang melawan terorisme,” sesungguhnya pencapaian tujuan-tujuan ekonomi, politik, dan keamanan Amerika Serikat, secara unilateral sudah semakin dimungkinkan sejak usainya Perang Dingin.
Walaupun banyak dibahas setelah peristiwa 11 September 2001, di New York, serta sejak dicetuskannya “perang melawan terorisme,” sesungguhnya pencapaian tujuan-tujuan ekonomi, politik, dan keamanan Amerika Serikat, secara unilateral sudah semakin dimungkinkan sejak usainya Perang Dingin.
Dengan berakhirnya Perang Dingin, bermunculan literatur-literatur
yang lumayan luas tentang demokratisasi secara global. Berbeda dengan
asumi yang dipegang para pendukung Pax Americana, agenda pasca-Perang
Dingin AS, sebetulnya cenderung menciptakan iklim yang tidak kondusif
bagi demokratisasi di Asia. Terutama, ketika agenda tersebut
bersinggungan dengan sumber-sumber konflik sosial domestik yang sudah
ada.
“Perang melawan terorisme,” misalnya, telah mempengaruhi konstelasi
kekuasaan dan kepentingan di banyak negeri Asia, yang berdampak buruk
pada kekuatan pendukung demokrasi. Yang menguat belakangan ini, malah
sejumlah kepentingan yang justru paling anti-demokrasi di sejumlah
negeri Asia. Penguatan itu terjadi, karena keberadaan mereka memenuhi
sebagian dari kebutuhan spesifik dari proses globalisasi ekonomi
neoliberal pada fase sekarang. Suatu kebutuhan yang sulit dipenuhi
sepenuhnya melalui mekanisme pasar semata dan daya ‘pendisplinan’
intrinsik dari modal finansial. Pemenuhan kebutuhan tersebut, semakin
memerlukan kebijaksanaan koersif yang terbuka, untuk menjamin akses dan
kontrol pada pasar-pasar tertentu serta, sumber daya alam yang semakin
langka seperti, minyak.
Tetapi, sesungguhnya perkembangan di atas bukanlah sesuatu yang
berdiri sendiri. Proses globalisasi neoliberal itu sendiri, dalam
istilah ahli hubungan internasional Richard Higgot, telah lama semakin
‘di-sekuritisasi.’ Boleh dikatakan, proses globalisasi neoliberal telah
mencapai tahap yang ditandai oleh semakin kerapnya penggunaan kekerasan
dan paksaaan, untuk menunjang daya pendisiplinan pasar global yang
ternyata ada batasnya. Oleh karena itu, neoliberalisme ekonomi yang
didukung oleh serangkaian kebijakan pemerintahan AS sejak tahun
1980s-an, semakin lama telah menjadi semakin “illiberal,” bahkan
“otoriter” dalam konsekuensi politik dan sosialnya secara domestik
maupun internasional. Yang juga penting dicatat, perkembangan seperti
ini lebih mencerminkan suatu “momen struktural,” bukan sekadar suatu
“momen politik” dalam sejarah globalisasi yang bisa diharapkan lewat
dengan begitu saja. Dengan demikian, digantinya Presiden Bush oleh
seorang Presiden dari Partai Demokrat, misalnya, tidak akan menghasilkan
suatu perubahan yang fundamental dalam logika globalisasi dewasa ini.
“Sekuritisasi” agenda globalisasi neo-liberal, jelas berdampak luas
pada Asia, termasuk dalam menentukan posisi setiap negeri dalam
perekonomian global. Ahli ekonomi politik Asia, Garry Rodan dan Kevin
Hewison, misalnya, pernah mencatat bagaimana kepentingan ekonomi dan
perdagangan AS dikaitkan secara erat pada konferensi APEC (Asia Pacific
Economy Cooperation) tahun 2003 di Bangkok. Pada saat itu dikemukakan,
akses kepada pasar Amerika akan diperuntukkan terutama pada mereka yang
turut serta dalam perang melawan terorisme. Bantuan luar negeri AS (yang
skalanya termasuk kecil untuk ukuran perekenomiannnya yang meraksasa)
juga, semakin dikaitkan dengan persyaratan di luar kebutuhan mendesak
negeri penerima – seperti efisiensi dalam memberikan izin untuk
investasi atau usaha.
Tidaklah mengherankan, jika di kalangan akademisi, karya-karya
tentang hegemoni atau “imperium” AS, berkembang pesat belakangan ini. Di
antara karya tersebut ada yang ditulis ilmuwan terkemuka seperti Ellen
Meiksins Wood, David Harvey, Chalmers Johnson, Michael Mann – di samping
Michael Hardt dan Antonio Negri. Pada umumnya, para penulis ini
berupaya untuk memahami logika dasar dan arah perkembangan tatanan dunia
yang bersifat unipolar, dalam kaitan dengan perkembangan kapitalisme
secara internasional. Sebagai contoh, Jan Nederveen Pieterse, menunjuk
pada berbagai strategi dari entitas yang ia namakan “neoliberal Empire.”
Di antaranya, eksperimen Amerika untuk merekayasa proses
“state-building” di Irak dan Afghanistan; digelarnya upaya untuk
menguasai akses pada sebanyak mungkin sisa sumber minyak dunia yang
belum tereksploitasi, militerisasi global yang semakin berteknologi
tinggi, serta “bantuan keamanan” dalam perang melawan teror pada
sejumlah negeri. Sisi lain strategi ini, diresmkannya berbagai
perjanjian perdagangan yang bersifat bilateral, perlindungan kepentingan
korporasi AS serta, ditetapkannya berbagai persyaratan ekonomi untuk
pemberian bantuan pembangunan.
Dalam hal ini, Wood lebih menekankan aspek koersif dari suatu “empire
of capital” yang didominasi AS. Berbeda dengan teori-teori tentang
globalisasi yang selama ini banyak meramalkan pudarnya Negara, menurut
Wood, Negara nyatanya semakin diperlukan untuk mengamankan jangkauan
modal internasional yang semakin global dan menyeluruh. Dalam hal ini,
Negara AS bertindak sebagai semacam “the great imperial enforcer” untuk
kepentingan modal yang berjaungkauan internasional, karena kapasitas
militernya yang tidak tertandingi.
Tampaknya sifat koersif dari tatanan internasional masa kini, semakin
dipertimbangkan oleh para ahli – suatu perkembangan yang baru bila
dibandingkan dengan keyakinan luas pada dekade 1990-an, bahwa logika
pasar global sendiri sudah mempunyai daya “pendisiplinan” instrinsik
yang sulit dilawan. Ahli geografi Harvey, juga memusatkan perhatian pada
ketegangan antara niat yang diutarakan untuk mengadakan perluasan
demokrasi, dengan kebutuhan dari pasar global yang dikuasai oleh suatu
“imperialisme kapitalis” — yang melibatkan penggunaan kekerasan terhadap
negeri-negeri lain, dan oleh karena itu, justeru berkarakter
anti-demokrasi. Penjelasan ini sedikit banyak disetujui oleh sosiolog
Michael Mann, yang beranggapan, pilihan menggunakan kekerasan untuk
mencapai tujuan-tujuan ekonomi AS, menjadi semakin menarik karena
kapasitas militernya yang tak tertandingi siapa pun setelah berakhirnya
Perang Dingin. Kapasitas militer ini, memungkinkan AS untuk tidak
mentoleransi hambatan yang ditetapkan pihak lain pada mobilitas dan
dominasi modal transnasionalnya.
Negara dan Modal di AS
Tetapi hal lain yang juga penting, bagaimana memahami konstelasi
kekuasaan dan sifat kapitalisme di AS sendiri. Peter Gowan mengingatkan,
ciri khas Amerika Serikat adalah kedekatan yang begitu erat antara
kelas kapitalisnya dengan Negara. Dibandingkan masyarakat kapitalis maju
lainnya, kaum pemodal AS begitu langsung berpengaruh terhadap
pembentukan kebijakan publik, tanpa banyak tandingan dari kekuatan
sosial lain . Menurut Gowan, modal transnasional AS bergantung pada
kapasitas militer AS untuk keamanannya dan semakin berhasil menggunakan
secara instrumental Negara AS yang termiliterisasi, untuk memajukan
kepentingannya.
Namun struktur kelas AS bersifat kompleks dan komposisi kelas
kapitalisnya pun terdiri dari berbagai fraksi yang bisa saling
bertentangan – meskipun sejak masa sosiolog C. Wright Mills, sudah ada
konsep tersohor tentang pengaruh hebat dari suatu “military-industrial
complex” di AS. Kepentingan kaum raja minyak – yang berpengaruh besar
pada masa Bush sekarang — misalnya, kadang-kadang bertentangan dengan
kepentingan yang disebut “Wall Street-Treasury complex,” yang lebih
berpusat pada kaum pemodal sektor finansial. Agaknya, pemahaman terhadap
cara bekerja “imperium” AS, memerlukan analisas yang lebih mendalam
tentang masyarakat, Negara, dan kapitalisme AS sendiri, beserta segala
kontradiksi yang inheren padanya.
Mungkin dengan sedikit mengabaikan kompleksitas tersebut, Gowan
mengajukan pendapat, sejak berakhirnya Perang Dingin sudah ada konsensus
di antara para pejabat tinggi Negara AS dan kelas kapitalisnya, akan
keperluan membangun suatu tatatan kapitalisme internasional sebagai
suatu komunitas di bawah supremasi AS. Dengan demikian, ada suatu
kontinuitas penting yang diidentifikasi Gowan, dalam jenis kepentingan
yang menentukan kebijakan publik dan luar negari AS yang melampaui
analisa terhadap kaum “Demokrat,” “Republik,” “Liberal” atau
“Neo-konservatif,” sebagaimana lazim diadakan sekarang. Tujuan yang
dimaksudkan Gowan, memang sudah tergambar dengan jelas dalam makalah
tersohor mengenai rencana strategis AS yang ditulis oleh Paul Wolfowitz
pada awal tahun 1990-an – ketika itu masih pejabat senior Departmen
Pertahanan — tetapi dirahasiakan isinya sebelum dibocorkan oleh koran
the New York Times. Dalam makalah ini, boleh dikatakan, hampir seluruh
“skenario” yang dijalankan Presiden Bush setelah mengambil alih
kekuasaan sudah ditulis secara agak lengkap. Menurut Gowan, retorika
“kerjasama kemananan” yang diutarakan pada masa Clinton, hanya menutupi
konsensus Negara–Modal yang berwatak imperial.
Oleh karena itu, meskipun naiknya-daunnya ideologi kaum
neo-konservatif seperti Wolfowitz yang berada di sekeliling Bush, telah
memperjelas aspek koersif dari kebijaksanaan luar negeri AS, sebenarnya
benih-benihnya sudah ada sejak lama. Lebih jauh lagi, asal-muasal
peningkatan aspek koersif ini bukanlah pada sejumlah individu yang
kebetulan sekarang berpengaruh di Washington tapi, terletak pada logika
untuk mengamankan dan memperluas jangkauan globalisasi neoliberal, di
bawah pimpinan modal transnasional AS.
Dalam hal ini, Perry Anderson mengingatkan, berakhirnya Perang Dingin
telah mengurangi insentif bagi negeri-negeri kapitalis maju di Eropa
Barat, untuk menerima begitu saja dominasi Negara dan modal AS. Ekonom
Robert Wade pun banyak menulis mengenai ancaman mata uang Euro terhadap
status dollar AS sebagai mata uang internasional – sesuatu yang bisa
berdampak hebat terhadap perekonomian AS, yang selama ini amat
diuntungkan karena mata uangnya berfungsi sebagai cadangan devisa bagi
hampir semua negeri di dunia. Tanpa itu, AS tidak bisa lagi mempunyai
“current account deficit” luar biasa besarnya, yang secara efektif
ditanggung negeri-negeri lain yang memegang dollar AS. Dengan latar
belakang ini, kita bisa mulai memahami friksi antara sebagian negeri
Eropa Barat (terutama Perancis dan Jerman) dengan AS belakangan ini
berkaitan dengan Perang Irak.
Dampak pada Asia
Di AS, akademisi konservatif seperti Samuel Huntington mengatakan,
dunia yang tidak didominasi AS akan penuh kekacauan, kemerosotan
ekonomi, dan menjadi semakin tidak demokratis. Kolumnis Sebastian
Mallaby, juga dari AS, berpendirian, masyarakatnya mempunyai tanggung
jawab untuk menjadi “imperium” demi kepentingannya sendiri dan juga demi
peradaban dunia yang lebih maju dan demokratis. Intelektual terkenal
Robert Kagan, mengecam Eropa karena kurang mau membantu AS dalam
mengemban tanggung jawabnya yang mulia untuk menjamin keamanan dan
kesejahteraan dunia. Sementara itu Deepak Lal, ekonom dari Inggris,
menambahkan, dominasi AS pada dasarnya bersifat progresif karena
memajukan proses globalisasi — yang kini dirongrong kekuatan Islam
radikal. Di Asia sendiri banyak tokoh, seperti Lee Kuan Yew dari
Singapura, yang menganggap hegemoni AS merupakan prasyarat bagi
kemakmuran dan pembangunan Asia.
Tetapi, yang menarik sifat progresif imperium AS ternyata banyak
ditentang di beberapa tempat di Asia. Protes gerakan-gerakan rakyat
terhadap AS, telah banyak bermunculan. Dari Korea Selatan, Jepang,
Filipina, dan belakangan di Indonesia, dan banyak negeri lain. Setelah
krisis ekonomi Asia, muncul pula demo-demo anti IMF di Indonesia dan
juga Thailand, yang mengasumsikan embaga tersebut adalah perpanjangan
tangan dari kepentingan modal AS.
Pada sisi lain, perlu pula diingat, sentimen anti-AS yang meningkat
ini telah dipergunakan dengan jitu oleh serangkaian kepentingan
konservatif di berbagai masyarakat Asia. Ini terlihat dalam retorika
neo-populis tokoh seperti Mahathir Mohammad, maupun sejumlah politisi
Indonesia yang berusaha memperkuat legitimasinya, dengan menonjolkan
sifat keIslaman ataupun nasionalis. Di Malaysia pula, kebijakan menahan
orang tanpa proses peradilan di bawah “Internal Security Act,”
belakangan dibela dengan menunjuk pada kebijakan AS di Guantanamo atau
Abu Ghraib. Pada saat yang sama, tindakan-tindakan represif yang
dilakukan di Thailand, Singapura, dan tempat lainnya, dibenarkan karena
adanya perang menghadapi terorisme.
Secara politik dan intelektual, suatu bahaya yang nyata adalah
kemunculan kembali versi-versi kasar dari teori dependensia, yang
meletakkan AS pada posisi kekuasaan absolut dan semua negeri lain dalam
posisi subordinatif mutlak. Sebabnya, unsur-unsur teori dependensia
dengan mudah dapat “dibajak” oleh kekuatan-kekuatan konservatif dalam
sejumlah masyarakat Asia sendiri, untuk menduking kebijaksanaan domestik
yang otoriter walau dibumbui jargon yang (ultra)nasional dan kadangkala
populis. Xenophobia anti-AS dan Barat, misalnya, dapat dipakai untuk
memobilisasi dukungan kaum miskin dalam negeri, sambil menutupi
hubungan-hubungan eksploitatif dalam negeri yang bersumber dari
konstelasi kekuasaan domestik. Lebih parah lagi, aktivitas aktor
pro-demokrasi yang bersumber dari dalam masyarakat Asia sendiri,
kemudian bisa di-cap pro-Barat atau Amerika, karena tidak sesuai dengan
kebudayaan setempat — walaupun sesungguhnya para penguasa tetap
berinteraksi dengan sang hegemon AS di bidang-bidang ekonomi dan
keamanan tertentu. Dengan kata lain, gerakan demokrasi di
masyarakat-masyarakat Asia, dapat menjadi sasaran empuk bagi manipulasi
politik dan ideologis yang dijalankan oleh elite-elite setempat atas
nama atavisme atau nasionalisme.
Bahkan, bisa saja dikatakan, salah satu korban utama dari
sekuritisasi proses globalisasi neoliberal adalah perjuangan untuk
demokrasi dan hak azasi manusia, hampir di mana saja di dunia ini. Lebih
dari itu, demokrasi sebagai suatu konsep atau cita-cita pun telah jatuh
pamornya, karena dihubungkan dengan tipuan atau kemunafikan
imperialisme. Dengan demikian, telah terjadi suatu proses “saling
penguatan” yang agak aneh: penggunaan retorika anti-AS oleh kaum
konservatif di negeri-negeri seperti Indonesia, Malaysia, Pakistan atau
Cina memerlukan “ancaman” AS sebagai negeri adikuasa yang dibenci, guna
membenarkan serangan terhadap aktor dan kekuatan politik domestik yang
berjuang untuk demokrasi dan keadilan. Di pihak lain, hegemon AS pun
memerlukan retorika anti-AS ini untuk membenarkan posisinya yang semakin
militeristik dan mementingkan keamanan, khususnya dalam suasana “perang
menghadapi terorisme.”
Dalam kaitan ini, ada gunanya untuk mengingat bahwa Asia adalah benua
tempat terjadinya perang-perang terbuka dan ‘panas’ paling dahsyat
semasa Perang Dingin yaitu, di Vietnam dan Korea. Rodan and Hewison pun
beranggapan, fase masa kini dari tatanan pasca-Perang Dingin, amat
ditandai oleh dinamika politik yang mirip dengan masa Perang dingin.
Misalnya, AS kembali mendukung sejumlah rezim otoriter, termasuk di
Asia, asalkan mendukung perang melawan terorisme. Seperti pada masa
Perang Dingin menghadapi komunisme, menurut logika ini penguatan hak
azasi manusia dan demokrasi, dinomorduakan terhadap kebutuhan-kebutuhan
ekonomi dan keamanan, terlepas dari retorika pro-demokrasi yang
dikumandangkan, misalnya sehubungan dengan Irak.
Adalah menarik pula bahwa di beberapa bagian Asia, Perang Dingin
seakan-akan tidak pernah berakhir. Di Asia Timur, ancaman perang terbuka
yang merupakan warisan Perang Dingin, masih menghantui semenanjung
Korea, serta wilayah Selat Cina. Pada masa terakhir ini, kekuatan
konservatif di Korea, misalnya, yang banyak mempunyai kaitan dengan
rezim diktator militer tempo dulu, justru kembali naik pamornya karena
masih adanya ‘ancaman’ dari Utara. Almarhum Park Chung Hee yang
memerintah dengan tangan besi, lantas menjadi pahlawan dan idola buat
sementara rakyat Korea, karena “keberhasilannya” dalam bidang ekonomi
dan keamanan. Di Asia Tenggara, perkembangan “civil society” di negeri
seperti Indonesia, masih terhambat oleh warisan sejarah Perang Dingin
yang memungkinkan pembantaian massal tahun 1960-an dan kediktoran
bertangan besi selama tiga dekade. Konsekuensinya, masih terasa dalam
berbagai persoalan dan kontradiksi dalam demokrasi Indonesia pasca-1998.
Perlu diingat, selama puluhan tahun, rezim-rezim anti-demokratis di
Korea Selatan, Taiwan (maupun Indonesia), dianggap sebagai basis AS
menghadapi perluasan komunisme. Kemajuan ekonomi Korsel dan Taiwan,
terutama sedikit banyak dimungkinkan oleh bantuan ekonomi (dan militer)
melimpah di masa awal pembangunannya, yang dianggap perlu guna
membuktikan superioritas jalur kapitalis.
Kemenangan koalisi-koalisi kepentingan pro-Barat di Indonesia,
Singapura dan Malaysia – negeri-negeri “domino” yang dianggap bisa
“dijatuhkan” oleh perluasan komunisme dari Indocina – sampai kini
mempunyai dampak terhadap lingkungan sosial dan politik setempat.
Kalaupun Filipina menawarkan suatu pengecualian terbatas, kekuatan Kiri
secara umum sudah lama tidak merupakan kekuatan yang efektif di kawasan
Asia Tenggara, sebagai akibat langsung dari Perang Dingin. Relatif
absennya kekuatan Kiri ini, memungkinkan model pembangunan kapitalisme
yang sangat sedikit menghiraukan kepentingan buruh atau kaum tani yang
kurang terorganisasikan dengan baik karena kekalahan di masa lalu.
Dengan demikian, demokratisasi yang berlangsung di Indonesia atau
Thailand pun, tidak banyak dipengaruhi oleh kekuatan yang mewakili
aspirasi Kiri, dan hanya secara terbatas di Filipina.
Warisan sejarah Perang Dingin, juga amat berdampak di Asia Selatan,
di mana pernah terjadi kompetisi yang keras antara AS, Uni Soviet dan
Cina, yang masing-masing mempunyai ‘klien’ di antara kekuatan-kekuatan
sosial politik domestik. Di antara kekuatan amat bervariasi tersebut,
sebut saja kaum Maoist dan Fundementalis Hindu di India,
diktator-diktator militer dan kaum Islam konservatif di Pakistan dan
Bangladesh – yang terakhir suatu negeri yang kelahirannya tidak
terpisahkan dari kompetisi Perang Dingin. Kaum Fundamentalis Hindu di
India, yang kini sangat kuat dalam kancah politik setempat, cenderung
mempunyai sikap pro-Amerika karena peran mereka secara historis dalam
menentang dominasi Partai Kongres yang dulu condong pada Uni Soviet.
Walaupun secara politik dan sosial amat konservatif, partai BJP yang
mewakili kekuatan Hindu Fundamentalis, dalam arus politik amat mendukung
liberalisasi ekonomi karena didukung oleh kelas menengah dan
kasta-kasta atas yang paling menikmati hasil pertumbuhan ekonomi pesar
di India belakangan ini.
Sesuatu hal lain yang perlu diingat adalah model pembangunan Asia
(terutama Timur dan Tenggara), yang pernah dianggap “sukses” sebenarnya
sempat menghambat supremasi globalisasi a la neoliberal secara lebih
meluas di bawah pimpinan AS. “Model Asia” tersebut menyiratkan
kemungkinan bentuk kapitalisme dengan peranan negara yang kuat dalam
mengintervensi pasar, dan juga bisa menghambat dominasi modal
transnasional yang berasal dari Barat, lewat berbagai kebijaksanaan
proteksionis dan “nasionalis.”
Adalah Krisis Asia 1997/98, yang yang akhirnya memungkinkan kaum
neoliberal di Bank Dunia dan IMF, untuk menegaskan bahwa tidak ada
alternatif model kapitalisme lain, termasuk dari pengalaman Asia, yang
“terbukti” sudah ambruk pada waktu itu.
Memang, KKN yang melekat pada model Asia ini amat menyumbang pada krisis hebat yang terjadi satu dekade lalu. Tapi, yang juga tak bisa diingkari, pengintegrasian perekonomian Asia ke dalam perekonomian global yang semakin erat — lewat perluasan modal finansial ke segala pelosok dunia di tahun 1990-an — merupakan faktor penyebab Krisis Asia yang tidak kalah penting.
Memang, KKN yang melekat pada model Asia ini amat menyumbang pada krisis hebat yang terjadi satu dekade lalu. Tapi, yang juga tak bisa diingkari, pengintegrasian perekonomian Asia ke dalam perekonomian global yang semakin erat — lewat perluasan modal finansial ke segala pelosok dunia di tahun 1990-an — merupakan faktor penyebab Krisis Asia yang tidak kalah penting.
Setelah Krisis Asia, para ideolog neoliberal kemudian menganjurkan
serangkaian kebijaksanaan pembaharuan, yang pada dasarnya mempermudah
pergerakan modal transnasional. Serangkaian dengannya, juga dianjurkan
pembaharuan dalam bidang “good governance,” “‘civil society’” dan
demokrasi. Namun, yang sebenarnya terjadi, adalah kemunculan kembali
pemikiran teori modernisasi klasik tahun 1950-an dan 1960-an, yang
membayangkan hubungan yang linear antara perkembangan perekonomian pasar
bebas dan demokratisasi – walaupun sekarang diberikan label yang
berbeda. Klaim ini tetap diajukan, meskipun terdapat banyak bukti
sejarah bahwa kapitalisme bisa beradaptasi dengan serangkaian rezim
sosial politik yang bervariasi, dan bahwa konvergensi antara liberalisme
ekonomi dan politik tidak mesti terjadi. Tujuan sebenarnya dari
serangkaian pembaharuan ini, untuk menciptakan kerangka kelembagaan
sosial, ekonomi, dan polititik yang dapat melindungi beroperasinya modal
transnasional dari rongrongan koalisi-koalisi kepentingan domestik di
negeri-negeri Asia yang bersifat predatoris ataupun re-distribusional.
Bagaimana dengan Cina? Negeri ini tidak terkena dampak krisis Asia,
justeru karena capital account-nya tertutup (oleh karena itu, sebab
tidak mau mengikuti rumus pembangunan a la neoliberal). Dengan
pertumbuhan ekonominya yang pesat, diperkirakan dalam waktu dekat,
negeri ini dapat menjadi penantang yang kuat terhadap ‘imperium’ AS.
Tetapi masa depan Cina juga penuh kerikil tajam. Polarisasi kelas yang
luar biasa pesat dan dahsyat, ketidak-seimbangan petumbuhan regional
yang begitu tajam, marjinaliasi 100-200 juta petani yang terlempar dari
sektor pertanian tetapi tidak mendapatkan tempat yang kokoh di sektor
industri, keringkihan sektor finansialnya – semua adalah sumber krisis
hebat yang potensial.
Cina yang besar (tetapi belum tentu stabil) ini, akan semakin
terlibat dalam tahun-tahun mendatang dalam kompetisi hebat untuk
menjamin akses pada sumber-sumber minyak dan gas bumi yang belum
tereksploitasi di kawasan Asia Tengah. Berkompetisi dengan Cina adalah
India – keduanya adalah konsumen minyak yang semakin tamak, karena
tuntutan pertumbuhan ekonomi yang pesat. Tidak boleh dilupakan, di
kawasan yang amat kompeks ( secara kultural, sosial, ekonomi dan
politik), terdapat pula Rusia dan Iran – dan lewat negeri ‘proxy’ macam
Irak dan Afghanistan – juga AS. Bisa diprediksikan, kawasan Asia Tengah
di masa mendatang akan menjadi lokasi dari berbagai konflik penting yang
amat berpengaruh terhadap masa depan dan keberlangsungan ‘Imperium.’
Kompetisi tersebut akan kian hebat – dan penuh kekerasan –dengan
tercapanyai kondisi yang disebut banyak ahli sebagai ‘peak-oil.’
Catatan Penutup
Perlu dicatat, berbarengan dengan semua ini, “Barat” pun sedang
mengalami perubahan. Misalnya, “welfare state” a la Eropa Barat, semakin
hari semakin mengalami kemerosotan, dan menjadi sumber dari berbagai
konflik sosial baru, termasuk yang melibatkan populasi kaum pendatang
yang tenaga murahnya sempat diperlukan. Kesenjangan sosial semakin
melebar di hampir semua masyarakat industri maju, tidak terkecuali di
Amerika Serikat, di mana 5 persen penduduknya mempunyai kekayaaan yang
melebihi 95 persen yang sisa. Perkembangan terakhir, ditandai oleh
merosotnya posisi hak-hak sipil di masyarakat-masyarakat Eropa Barat,
Australia, dan AS dalam suasana perang melawan teror. Di AS, misalnya,
inovasi seperti Patriot Act sangat mengancam hak-hak sipil tersebut,
suatu perkembangan yang diikuti pula di masyarakat Barat lainnya yang
selama ini dianggap demokratis.
Jadi, di negeri seperti AS pun, terdapat kontradiksi internal yang
potensial penting dalam menentukan masa depan ‘Imperium’ yang sepak
terjangnya begitu berpengaruh di wilayah Asia. Rakyat AS dalam jumlah
banyak, sempat turun ke jalan melakukan protes terhadap invasi Irak.
Protes terbuka ini sedikit banyak membuat posisi politik para pendukung
terbuka perang tersebut kelihatan semakin labil. Hal ini sebenarnya
tidak terlalu mengherankan, karena sesungguhnya, hanya segelintir kecil
rakyat Amerika yang menikmati secara langsung status “Imperium”-nya.
Puluhan juta warganya, hidup dalam keadaan miskin – tanpa akses kepada
fasilitas umum seperti pendidikan dan kesehatan yang baik — sebagaimana
layaknya di negeri kaya raya dan adikuasa.
Dengan demikian, kaum miskin di AS juga merupakan korban dari biaya
besar yang diperlukan Negara AS untuk bertindak sebagai “the great
enforcer” dari proses globalisasi neoliberal, sebagaimana dibayangkan
Ellen Meiksins Wood.
dikutip dari
http://acehmarxist.wordpress.com/2008/01/09/imperium-neoliberalisme-dan-asia/