Lunturnya Idealisme Gerakan PMII
Dahulu basis gerakan PMII mempunyai peranan penting dalam memperjuangkan
hak rakyat Indonesia. Berbekal intelektualitas dan kapasitas yang mereka miliki,
memposisikan kader PMII sebagai the agent of social change, the
agent of social control, dan the agent of problem solver. Mereka mempunyai prinsip dan tugas yang mulia sebagai pembela
rakyat dari segala kebijakan birokrasi yang tidak pro rakyat. Namun melihat
realita sekarang, basis pergerakan yang mengatasnamakan gerakan untuk rakyat, kini
tinggalah angan-angan.
Gerakan
PMII sekarang telah terreduksi. Sebagai kader pergerakan yang menempati
jenjang pendidikan tertinggi di Indonesia, seharusnya kader mampu melaksanakan fungsinya sesuai dengan landasan pergerakan yang
tercantum dalam Nilai Dasar Pergerakan (NDP).
Akan tetapi, pada kenyataanya pergerakan
PMII sekarang cenderung kehilangan arah dalam gelombang permasalahan bangsa, serta kehilangan daya kritis untuk menjadi pengawal penguasa.
Kepekaan
dalam menangkap isu-isu sosial, kemudian melakukan advokasi telah menghilang dari jiwa kader dimasa
kini. Berbagai peristiwa hukum dan sosial yang belakangan ini terjadi kurang
begitu mendapat perhatian dari kader PMII. Simak saja beberapa persoalan, seperti aksi anarkhis yang dilakukan oleh kelompok
radikal, pemutusan hubungan kerja secara sepihak pada buruh pabrik, serta
petani yang dirugikan karena lahannya digunakan untuk perumahan dan perluasan
jalan tol dan sebagainya. Persoalan-persoalan tersebut kurang begitu mendapat perhatian kader pergerakan masa kini. Padahal, persoalan-persoalan tersebut mencakup
permasalahan yang mendasar yakni, kebebasan dan hak asasi manusia. Namun kader pergerakan sekarang ini lebih tertarik terhadap isu-isu yang
bersifat global yang tidak ada korelasi langsung
dengan masyarakat.
Adanya
afiliasi terhadap partai politik menjadi salah satu faktor penyebab sikap
apatis gerakan di tubuh PMII dalam menyikapi masalah tertentu. Sikap
politik yang dianut suatu partai, mau tidak mau harus dianut pula oleh
organisasi pergerakan yang berada di bawah naungannya. Hal ini
menyebabkan kader kehilangan daya kritis dan pembelaan
terhadap mereka yang terpinggirkan.
Selain itu banyaknya alumni kader pergerakan yang telah menempati posisi
penting dalam kancah perpolitikan, juga
berperan besar terhadap berkurangnya nalar kritis kader dalam menyikapi suatu
masalah. Hubungan yang terjadi di antara alumni dengan kader gerakan yang masih
aktif, cenderung didominasi oleh doktrin-doktrin yang bersifat pragmatis.
Permasalahan lain yang tidak kalah serius adalah, kritik yang
dilontarkan mahasiswa pergerakan dalam berbagai bentuk unjuk rasa saat ini.
Mereka dalam menyampaikan aspirasi tidak berangkat dari tradisi akademik yang
menjadi basis moral pergerakan. Ketika melakukan aksi, kader kurang mempunyai
dasar pemikiran akademis yang bisa dipertanggungjawabkan. Kerap kali suara-suara yang mereka bawa
turun ke jalan tidak melalui serangkaian kajian yang mendalam berdasarkan
disiplin ilmu yang memadai. Oleh karenanya argumen yang mereka tawarkan mudah dibantah dan dipatahkan.
Disamping itu cara mereka menyalurkan aspirasi cenderung anarkis, sehingga
simpati rakyat terhadap perjuangan mereka meluntur.
Maka perlu ada tinjauan ulang terhadap gerakan PMII saat ini. Sudah
saatnya kita berbenah diri dan kembali pada prinsip dan patron pergerakan yang
benar, yaitu gerakan untuk rakyat. Mahasiswa pergerakan saat ini harus mampu
mengaplikasikan konsep NDP sebagai bekal untuk pergerakan. Karena kader tidak
hanya dituntut cakap secara berintelektual saja, namun harus mampu
mengamalkanya dalam pengabdian masyarakat. Terlebih dalam mengawal kebijakan
pemerintah yang tidak pro rakat.
Kemudian peran serta semua elemen
masyarakat juga sangat penting. Sebagai penyokong sekaligus kontrol pergerakan,
supaya arah gerakan mampu sejalan dengan visi dan misi kerakyatan. Karena pada
dasarnya gerakan PMII adalah gerakan yang berbasis kerakyatan bukan berbasis
golongan ataupun politik. Dengan adanya sinergitas tersebut diharapkan gerakan PMII
mampu menjadi suatu kekuatan besar yang mampu mengawal birokrasi, sehingga akan
tercipta masyarakat madani yang selama ini kita dambakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar