Faham
Radikalisme Mengintai Pola Pikir Pemuda
Oleh; Muchamad Sholechan penulis[1]
Kaum muda sasaran empuk paham
radikalisme, mereka dianggap
tengah mengalami proses dan fase pencarian
jati diri. Didukung kebanyakan pemuda yang bersikap asocial, menyebabkan
rasionalitas dan kesadaran kritis tidak bekerja normal di benak mereka.
Sehingga semakin mudah ditanamkan sikap militansi paham radikalisme, yang
sangat mengancam jiwa pelakunya.
Radikalisme
berasal dari kata filsafat yaitu radic yang berarti berfikir secara
mendalam untuk menelusuri suatu akar masalah atau hakekat dan realitas. Radic pada
mulanya berkembang dalam bahasa filsafat, tapi saat ini radikalisme berkembang
menjadi perbuatan yang memicu gerakan radikal. Saat ini radikalisme bergeser
dari cara berfikir secara filsafat berubah menjadi gerakan politik keagamaan.
Bukan agama, tapi agama yang dipolitisir. Yaitu orang beragama yang menganggap
hanya dirinyalah yang benar, sedangkan orang lain salah. Hanya dirinyalah yang
masuk surga, sementara yang lain masuk neraka. Menilai lemah iman orang Islam
di luar diri serta kelompoknya karena dinilai hanya membela Islam dengan
kata-kata, tidak dengan perbuatan seperti yang telah mereka lakukan.
Para
pemuda menjadi obyek utama paham radikalisme, mereka dianggap tengah mengalami
proses atau fase pencarian jati diri. Rasionalitas serta kesadaran kritis yang
tidak bekerja di benak mereka. Mengakibatkan doktrin yang menegasi realitas
begitu mudah ditanamkan, dan indoktrinasi sektarian merasuk manakala kaum muda
mengalami ketercerabutan atau kehilangan komunitas sosial kritis tempat
belajar. Sehingga semakin mudah ditanamkan sikap militansi sesuai paham
radikalisme, yang sangat mengancam jiwa pelakunya. Untuk memotifasi paham
ini, kaum radikal menggunakan idom-idom keagamaan, seperti janji surga dan
kedudukan yang mulia di sisi Tuhan. Inilah yang dipompakan ke dalam benak para
radikalis.
Gerakan Sempalan
Timbulnya
pemahaman agama yang radikal di kalangan anak muda sebenarnya sangat wajar
serta tidak perlu dihawatirkan. Sebuah umat yang hanya terdiri dari satu
ortodoksi yang monolitik mudah kehilangan dinamika dan semangat hidup. Dalam
sejarah gereja di dunia Barat sekte-sekte radikal telah berfungsi sebagai hati
nurani umat, dapat dilihat di sejarah umat Islam. Gerakan sempalan radikal
mendorong ortodoksi untuk setiap saat memikirkan kembali relevansi ajaran agama
dalam masyarakat kontemporet untuk menjawab atas masalah dan tantangan baru
yang terus timbul.
Baru-baru
ini muncul bahaya jika komunikasi antar ortodoksi dan gerakan sempalan
terputus, kemudian mereka terasingkan. Karena kurang pengalaman hidup dan
pengetahuan agama, akibatnya mereka sangat mudah bisa dimanipulir dan atau
diarahkan kepada kegiatan yang tidak sesuai dengan kepentingan umat. Masalah
ketercerabutan (asosial) ini persis dialami para mahasiswa yang notabennya
pemuda, lingkaran hedonis yang suka hura-hura dan condong keluar dari habitat
sebagai pelajar produktif.
Dewasa
ini mahasiswa suntuk karena urusan kuliah yang kian berat, tekanan struktural
berlapis akibat kecewa melihat perubahan lingkungan sosial ekonomi, apalagi
pudarnya solidaritas sosial akibat pergaulan eksklusif. Dampaknya mahasiswa
mengalami disorientasi, oleh karena itu seharusnya sistem pendidikan dan budaya
di masyarakat mewadahi pengembangan kesadaran kritis, agar mereka berkespresi
sesuai minat, mendidik dan cerdas.
Obat Penawar
Untuk
mengatasi persoalan indoktrinasi pada mahasiswa, tidak cukup sekedar mengejar
atau menangkap para pencuci otak atas nama hukum. Namun pulihkan segera
hamasiswa dari tekanan (stress) karena mereka korban keyakinan paham keras atas
agama. Jangka panjangnya, perlu menumbuhkan dan membangun ruang
pembelajaran kritis dan rasional di dalam kampus dan masyarakat, agar menguat
semangat solidaritas berkomunitas. Memfasilitasi arena pengembangan pemikiran
dan ekspresi kreatif, agar imajinasi kaum muda bermakna sebagai modal dan
proses belajar dirinya agar kian matang serta humanis. Kemudian diperkuat
dengan pendidikan karakter yang mendukung pemahaman social yang tinggi.
Sebagaimana
penuturan Muhamad Nuh, Gerakan pendidikan karakter yang bertumpu pada kecintaan
dan kebanggaan terhadap bangsa dan negara berdasarkan pilar Pancasila, UUD
1945, Bhineka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Sangat mendukung terbinanya insan yang mulia. Karena gerakan pendidikan
karakter menekankan tiga hal, pertama, menumbuhkan kesadaran peserta didik
sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan sehingga muncul perilaku kasih sayang dan
bukan sikap destruktif atau merusak. Kedua, tumbuhnya karakter keilmuan yakni
bertambahnya rasa "kepenasaran intelektual" (intelectual curiosity).
Ketiga, tumbuhnya kecintaan terhadap tanah air berupa penanaman ideologi.
Perlu
dipahami bersama, suksesi masalah ketercerabutan butuh komitmen dan kerja sama
antara lembaga pendidikan, masyarakat dan kebijakan negara yang harus saling
menopang, baik dari sisi substansi maupun metode belajarnya. Saling menghargai
satu sama lain, karena bangsa Indonesia adalah bangsa sangat majemuk, terdiri
dari bermacam-macam suku, agama, ras, dan juga banyak aliran-aliran politik.
Selanjutnya menumbuhkan kehidupan yang ramah yang bersendikan keseimbangan,
toleransi, moderat, dan keadilan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam
arti agama yang damai dan berkeadilan, serta memunculkan Islam sebagai rahmatan
lil’alamin menuju ummatan wasathan yang bisa
mengintegrasikan umat dan
bangsa.
[1] Mahasiswa Prodi PAI ‘10 Walisongo, asal kota
Kebumen Beriman
“Diskusi Srikandi”
tumbuhkan semangatku untuk bisa menyatu dengan fenomena alam.