Total Tayangan Halaman

Kamis, 31 Mei 2012

Adakah Kebenaran Dalam Agama?


Adakah Kebenaran Dalam Agama?

Apakah ada kebenaran di dalam agama, sesuatu yang telah menjadi pedoman bagi hampir seluruh umat manusia selama sekitar ratusan hingga ribuan tahun? Masing-masing agama memang mengklaim bahwa ada kebenaran di dalam dirinya; entah itu melalui konsep Tuhan yang dikonsepsikan melalui dogma maupun melalui Kita Suci agama masing-masing ataupun melalui paham-paham yang mereka yakini sendiri. Namun, yang menjadi pertanyaan besar adalah, apakah betul bahwa agama itu memang betul-betul mengandung sebuah kebenaran?
Kebenaran diyakini sebagai segala sesuatu yang tidak lagi bisa dibantah, mengandung sesuatu yang absolut dan dapat diterima oleh semua kalangan. Berangkat dari pernyataan ini, kita akan melihat apakah agama itu bisa disebut mengandung sebuah kebenaran yang absolut atau tidak.
Dari pemaparan di atas, maka kita akan mendapatkan suatu fakta yang menarik, yakni bahwa agama itu tidak benar dan juga tidak salah. Agama itu tidak benar sejauh mereka ada pada sudut pandang para atheis dan tidak salah selama kita melihat dari sudut pandang theis. Dua sudut pandang ini saling bertolak belakang, sehingga tidak dimungkinkan untuk dilakukan penggabungan diantara keduanya.
Jika kita memaksakan menemukan sebuah titik temu perihal persepsi kebenaran di dalam agama yang bisa mengakomodir sudut pandang dari masing-masing pihak, maka hanya bisa disimpulkan demikian: bahwa agama itu hanya akan benar sejauh mereka tidak memperdayakan umatnya, melainkan memberdayakan umatnya, agama itu benar sejauh ia bisa peka terhadap fenomena-fenomena sosial disekitarnya dan tidak hanya sibuk berkutat dengan doktrin dan dogmanya masing-masing. Memang, sepintas hal ini nampak sangat bersifat duniawi. Namun, jika memang agama diciptakan oleh Tuhan yang sangat baik –sebenarnya tidak pantas menggunakan kata baik karena sangat lebih dari sekedar baik- maka agama juga harus bisa memancarkan kebaikan itu untuk semua orang dan hal ini tentunya tidak berkontradiksi dengan pandangan kaum atheis.
Oleh; Muchamad Sholechan ibn Rasyid

Faham Radikalisme Mengintai Pola Pikir Pemuda

Faham Radikalisme Mengintai Pola Pikir Pemuda
                                           
Oleh; Muchamad Sholechan penulis[1]

Kaum muda  sasaran empuk paham radikalisme,  mereka dianggap
tengah mengalami proses dan fase pencarian  jati diri. Didukung kebanyakan pemuda yang bersikap asocial, menyebabkan rasionalitas dan kesadaran kritis tidak bekerja normal di benak mereka. Sehingga semakin mudah ditanamkan sikap militansi  paham radikalisme, yang sangat  mengancam jiwa pelakunya.

Radikalisme berasal dari kata filsafat yaitu radic yang berarti berfikir secara mendalam untuk menelusuri suatu akar masalah atau hakekat dan realitas. Radic pada mulanya berkembang dalam bahasa filsafat, tapi saat ini radikalisme berkembang menjadi perbuatan yang memicu gerakan radikal. Saat ini radikalisme bergeser dari cara berfikir secara filsafat berubah menjadi gerakan politik keagamaan. Bukan agama, tapi agama yang dipolitisir. Yaitu orang beragama yang menganggap hanya dirinyalah yang benar, sedangkan orang lain salah. Hanya dirinyalah yang masuk surga, sementara yang lain masuk neraka. Menilai lemah iman orang Islam di luar diri serta kelompoknya karena dinilai hanya membela Islam dengan kata-kata, tidak dengan perbuatan seperti yang telah mereka lakukan.
Para pemuda menjadi obyek utama paham radikalisme, mereka dianggap tengah mengalami proses atau fase pencarian jati diri. Rasionalitas serta kesadaran kritis yang tidak bekerja di benak mereka. Mengakibatkan doktrin yang menegasi realitas begitu mudah ditanamkan, dan indoktrinasi sektarian merasuk manakala kaum muda mengalami ketercerabutan atau kehilangan komunitas sosial kritis tempat belajar. Sehingga semakin mudah ditanamkan sikap militansi sesuai paham radikalisme, yang sangat  mengancam jiwa pelakunya. Untuk memotifasi paham ini, kaum radikal menggunakan idom-idom keagamaan, seperti janji surga dan kedudukan yang mulia di sisi Tuhan. Inilah yang dipompakan ke dalam benak para radikalis.
Gerakan Sempalan
Timbulnya pemahaman agama yang radikal di kalangan anak muda sebenarnya sangat wajar serta tidak perlu dihawatirkan. Sebuah umat yang hanya terdiri dari satu ortodoksi yang monolitik mudah kehilangan dinamika dan semangat hidup. Dalam sejarah gereja di dunia Barat sekte-sekte radikal telah berfungsi sebagai hati nurani umat, dapat dilihat di sejarah umat Islam. Gerakan sempalan radikal mendorong ortodoksi untuk setiap saat memikirkan kembali relevansi ajaran agama dalam masyarakat kontemporet untuk menjawab atas masalah dan tantangan baru yang terus timbul.
Baru-baru ini muncul bahaya jika komunikasi antar ortodoksi dan gerakan sempalan terputus, kemudian mereka terasingkan. Karena kurang pengalaman hidup dan pengetahuan agama, akibatnya mereka sangat mudah bisa dimanipulir dan atau diarahkan kepada kegiatan yang tidak sesuai dengan kepentingan umat. Masalah ketercerabutan (asosial) ini persis dialami para mahasiswa yang notabennya pemuda, lingkaran hedonis yang suka hura-hura dan condong keluar dari habitat sebagai pelajar produktif.
Dewasa ini mahasiswa suntuk karena urusan kuliah yang kian berat, tekanan struktural berlapis akibat kecewa melihat perubahan lingkungan sosial ekonomi, apalagi pudarnya solidaritas sosial akibat pergaulan eksklusif. Dampaknya mahasiswa mengalami disorientasi, oleh karena itu seharusnya sistem pendidikan dan budaya di masyarakat mewadahi pengembangan kesadaran kritis, agar mereka berkespresi sesuai minat, mendidik dan cerdas.
Obat Penawar
Untuk mengatasi persoalan indoktrinasi pada mahasiswa, tidak cukup sekedar mengejar atau menangkap para pencuci otak atas nama hukum. Namun pulihkan segera hamasiswa dari tekanan (stress) karena mereka korban keyakinan paham keras atas agama.  Jangka panjangnya, perlu menumbuhkan dan membangun ruang pembelajaran kritis dan rasional di dalam kampus dan masyarakat, agar menguat semangat solidaritas berkomunitas. Memfasilitasi arena pengembangan pemikiran dan ekspresi kreatif, agar imajinasi kaum muda bermakna sebagai modal dan proses belajar dirinya agar kian matang serta humanis. Kemudian diperkuat dengan pendidikan karakter yang mendukung pemahaman social yang tinggi.
Sebagaimana penuturan Muhamad Nuh, Gerakan pendidikan karakter yang bertumpu pada kecintaan dan kebanggaan terhadap bangsa dan negara berdasarkan pilar Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sangat mendukung terbinanya insan yang mulia. Karena gerakan pendidikan karakter menekankan tiga hal, pertama, menumbuhkan kesadaran peserta didik sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan sehingga muncul perilaku kasih sayang dan bukan sikap destruktif atau merusak. Kedua, tumbuhnya karakter keilmuan yakni bertambahnya rasa "kepenasaran intelektual" (intelectual curiosity). Ketiga, tumbuhnya kecintaan terhadap tanah air berupa penanaman ideologi.
Perlu dipahami bersama, suksesi masalah ketercerabutan butuh komitmen dan kerja sama antara lembaga pendidikan, masyarakat dan kebijakan negara yang harus saling menopang, baik dari sisi substansi maupun metode belajarnya. Saling menghargai satu sama lain, karena bangsa Indonesia adalah bangsa sangat majemuk, terdiri dari bermacam-macam suku, agama, ras, dan juga banyak aliran-aliran politik. Selanjutnya menumbuhkan kehidupan yang ramah yang bersendikan keseimbangan, toleransi, moderat, dan keadilan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam arti agama yang damai dan berkeadilan, serta memunculkan Islam sebagai rahmatan lil’alamin menuju ummatan wasathan yang bisa mengintegrasikan umat dan bangsa.                                             



[1] Mahasiswa Prodi PAI ‘10 Walisongo, asal kota Kebumen Beriman
“Diskusi Srikandi” tumbuhkan semangatku untuk bisa menyatu dengan fenomena alam.