REFLEKSI KADERISASI
Kita sering mendapati diri ada di tengah
belantara pertanyaan, gugatan, ketidakpuasan sekaligus kebingungan mengenai
kaderisasi di PMII. Semuanya campur aduk tak tertata, antara pertanyaan
mendasar dengan pertanyaan teknis. Pertanyaan apa tujuan kaderisasi kita? Untuk
apa kaderisasi kita? terlontar bersamaan dengan pertanyaan: bagaimana
metodenya? Apa isi materinya? Apa sajakah buku-buku referensinya? Bagaimana
distribusi kader nanti? Siapa instruktur dan pematerinya?
Semua itu merupakan pertanyaan faktual,
artinya relevan untuk diajukan. Soalnya adalah bahwa menata pertanyaan sesuai
dengan proporsinya masing-masing, jarang terjadi. Lalu mengurutkan, memahami
kembali dan mengakumulasikan jawaban-jawaban sebagaimana telah diberikan dari
Kongres ke Kongres, juga jarang dilakukan.
Ketika kita (PMII) berada di tengah
situasi otoritarianisme Orde Baru, PMII sepuas-puasnya mereguk khazanah
intelektual dan mengambil inspirasi gerakan serta kosakata Marxian. Ternyata
pilihan tersebut ampuh sebagai jalan mengetahui bahwa orang-orang PMII beserta
organisasinya, adalah bagian dari masyarakat pinggiran bangsa ini yang secara
sistematis memang dipelihara untuk tetap di pinggir. Lebih dari itu, pilihan
tersebut juga ampuh untuk membangkitkan radikalisme kita, sehingga PMII berani
mengisi garis depan perjuangan melawan negara sampai akhir dekade 1990.
Saat itu, tujuan PMII dan tujuan
kaderisasi seolah-olah telah terumuskan dalam bentuk final, konkrit dan mewujud
secara material: membela rakyat tertindas. Di tengah situasi zaman itu,
struktur permukaan dari kenyataan yang dihadapi mahasiswa memang mudah
menciptakan situasi psikologis yang sarat dengan heroisme.
Sementara zaman berubah dengan cepat,
kampanye demokrasi dan slogan reformasi melahirkan desentralisasi; ruang
kompetisipun terbuka sangat lebar. Gerakan ekstraparlementer tidak lagi menjadi
domain utama gerakan mahasiswa. Kita bertemu dengan organisasi ‘kanan’ yang
secara ‘tiba-tiba’ mendominasi ruang opini gerakan mahasiswa. Bersamaan dengan
itu kita menemukan bahwa ‘rival’ lama kita ternyata masih tetap bertahan dan
masih eksis. Pada saat itu, kita merasa kehilangan sifat ‘kanan’ kita: kita
kurang Islami, kurang menghargai simbol dan seterusnya.
Situasi tersebut persis terjadi saat
inspirasi gerakan dan kosakata Marxian belum disadari sepenuhnya sebagai sumber
energi-eksternal pada masanya, yakni situasi nasional dekade 1990. Dengan
kalimat lain, kita masih cenderung ‘kiri’ dalam kosakata dan sedikit ‘kiri’
dalam pikiran, namun kita ingin ‘kanan’ juga. Ambang antara ‘kiri’ dan ‘kanan’
inilah yang harus kita atasi.
Maka kita harus mengingat kembali tujuan
dasar kaderisasi PMII, atau untuk apakah kaderisasi PMII dilakukan? Melihat
kembali dan merekonstruksi tujuan ini penting, mengingat telah demikian banyak
input intelektual dan pengalaman gerakan yang dipunyai PMII. Begitu banyaknya
sehingga tujuan kaderisasi kita sering tak terbaca dan teringat, tergantikan
dengan ‘bahasa-bahasa’ lain. Intensitas pergaulan dan kompetisi kita
dengan organisasi ‘kiri’ dan organisasi ‘kanan’ kerap menimbulkan sikap ‘kecil
hati’ di satu sisi dan terlalu ‘merasa besar diri’ di sisi yang lain. Bahkan
kadang-kadang muncul sikap reaksioner.